Merokok & Petani Tembakau
Anaman Demonstrasi 22 juta Petani tembakau merupakan sebuah hal yang cukup fantastik walapun kemudian dibantah oleh Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. ”Data dari Departemen Pertanian menunjukkan bahwa jumlah petani tembakau tahun 2004 adalah 686.000 petani, sekitar 1,6 persen dari jumlah tenaga kerja di sektor ini atau 0,7 persen jumlah tenaga kerja di Indonesia. Jadi gertakan bahwa ada 22 juta petani tembakau itu omong kosong,"
Sebenarnya siapa yang diuntungkan dengan banyaknya perokok ?
Sebenarnya bukan ini permasalahan sesungguhnya petani tembakau dari segi posisi tawar yang rendah terhadap industri rokok karena kualitas tembakau ditetapkan oleh grader (pengumpul yang menilai kualitas tembakau) tanpa sepengetahuan petani tanpa standar kriteria yang digunakan, sementara harga tetap ditentukan oleh tengkulak atau pembeli.
"Dengan sistem kemitraan, posisi tawar petani menjadi lebih rendah. Meski ada jaminan pembelian, tetapi harga jual tidak berubah walaupun harga pasar naik," kata Dr Widyastuti Soerojo dari Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) di Jakarta.
Petani tembakau pun bukan pekerja purna-waktu karena hanya empat bulan dalam setahun mereka mengerjakan pertanian tembakau. Dalam mata rantai bisnis industri rokok, petani merupakan pemasok bahan baku utama. Tanpa petani tembakau, industri rokok akan gulung tikar.
Studi yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyebut tiga penghasil utama tembakau (Bojonegoro, Kendal, dan Lombok Timur) baru-baru ini menemukan bahwa upah rata-rata buruh tani per bulan adalah Rp 413.000 atau 47 persen dari upah rata-rata nasional.
Data Statistik Upah 2005 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa upah petani tembakau per hari sebesar Rp 3.637 adalah terendah di antara enam komoditas pertanian (tebu, kelapa sawit, teh, kopi, tembakau, dan cokelat) dan merupakan separuh rata-rata upah petani tebu sebesar Rp 6.677 per hari.
Keuntungan sebesar rata-rata Rp 4,1 juta selama empat bulan tidak seimbang dengan risiko cuaca buruk (hujan) yang merusak daun tembakau, serangan hama, dan rendahnya harga karena volume penawaran yang lebih besar daripada jumlah pembeli.Sampai dengan triwulan ke-3 tahun 2008, PT Sampoerna Tbk telah menangguk keuntungan bersih Rp 3,1 triliun. "Sementara itu, sampai pertengahan tahun 2008, laba bersih Gudang Garam adalah Rp 891,3 miliar," papar Widyastuti.
Indonesia berada di urutan ketiga dari jumlah konsumsi rokok dunia setelah China dan India. Di Indonesia ada 63 juta perokok. Adiksi yang diakibatkan oleh rokok membuat orang tidak dapat berhenti merokok. "Ini memperburuk situasi orang miskin karena sebagian besar penghasilannya untuk membeli rokok," kata Abdillah Ahsan dari Lembaga Demografi FEUI.
Sebagaian dari perdebatan merokok menjadi lebih menarik kalo kemudian pemerintah tidak mengambil langkah cepat. Sebagai contoh AS sudah 23 negara bagian yang menetapkan larangan merokok ditempat-tempat tertentu pada warganya yang menyebabakan raksasa rokok AS Philip Morris semakin megap-megap. Indonesia juga akan menuju kearah sana, walaupun saat ini kita tau 3 orang kaya versi majalah Globe Indonesia adalah pengusaha rokok ternyata kemiskinan petani tembakau juga belum teratasi
Menuju solusi dengan mengandeng perusahan-perusahan rokok ini untuk berinvestasi di sector perkebunan yang pro pasar dan mensejahtrakan petani harus segera dinasionalisasikan jangan kemudian menunggu penganguran semakin bertambah. Tidak perlu stimulus tapi kebersamaan dan kemitraan yang saling menguntungkan antara pemerintah pengusaha dan petani.
News Categories





