Menghargai Kebudayaan Kita, Kewajiban Kita Dan atau Bangsa Lain
Dan atau bisa kita gunakan untuk membuat sesuatu yang kita buat dalam sebuah keputusan menjadi dua makna, dalam judul diatas jelas dimaksudkan pertama menghargai budaya adalah kewajiban kita dan bangsa lain dimuka bumi ini. Tapi dengan tambahan ”atau” menjadikan bangsa lain saja yang menghargai budaya bangsa ini.
Tulisan ini berajak dari kesadaran bahwa penghargaan budaya oleh bangsa ini sendiri semakin tipis, lebih banyaknya bangsa lain yang menghargai kebudayaan kita walaupun ada yang berkomentar dari segi keuntungan ekonomi saja.
Sederhana saja baru-baru ini sutradara Singapura Sanif Olek, memproduksi film melayu The Missing Ingredient berisi lagu-lagu Indonesia, di antaranya Si Jali-jali, Sayang di Sayang dan Pesan Kakek yang dinyanyikan oleh para aktor dan aktris negeri itu selain mengangkat kisah seputar kehidupan melayu ada tampilan-tampilan menarik seperti Sambal Goreng yang merupakan makanan khas negeri ini juga. Saat film Indonesia berkiblat pada arah yang tidak jelas, sebetar timur tengah, sebentar India dan kadang juga ingin meniru Film-film sampah, sex, mistis dan kekerasan yang jauh dari budaya ”orang Indonesia”. Bangsa lain justru lebih menghargai budaya asli kita.
Menurut Yustinus Sulistiadi, Ketua Cultura di Vita dalam sebuah wawancara dengan Kompas.com, pengaruh dari luar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah global market. "Pengaruhnya sangat hebat, sehingga bangsa kita terutama anak-anak muda tercerabut budaya lokalnya dan condong ke Barat.
Memang nasib seniman kita masih belum kalah terbukti dari pameran Lukisan "Exotic Indonesia in Colours" di Soka Gakkai, Kuala Lumpur yang dibuka Jumat (13/03/09) yang diikuti 38 pelukis wanita Indonesia termasuk Kartika Afanddi. Menonjolkan identitas sebuah bangsa merupakan keharusan sebagai tantangan eksistensi sebuah negara. Keanekaragaman kultur dan budaya indonesia harus terus digali dan di ajarkan kepada generasi penerus jika bangsa ini ingin tetap utuh.
Tanggung jawab pemerintah dan pelaku budaya Bangsa ini untuk terus memberi warna dan mempertahankan corak ”Nusantara” kita. Memberikan warna pada generasi penerus, memberikan warna pada setiap aktivitas bangsa ini dengan warna kultur kita. Hal ini bukan berarti pengekangan kebebasan berekspresi tapi lebih kepada Filterisasi efek pada kelangsungan bangsa ini dari tekanan budaya luar yang cenderung memaksa kita untuk terus konsumtif pada bangsa lain dan memperbodoh generasi penerus.
Terakhir, bangsa dan budaya ini milik kita, bukan setelah bangsa lain lebih memiliki budaya kita kemudian kita tersinggung, tapi waktu yang lalu kita disibukan dengan konser dan pagelaran budaya asing. Sudah waktunya kedepan kita menghidupkan teater rakyat kita dengan, Reog, Sendratari, Mamanda, jaipong, tarian dayak, Bugis, Ambon, Papua, bali, Jawa, Minang, dan Ratusan suku kita yang penuh dengan kekayaan budaya.
News Categories





