Buku Politik Indonesia
Bukan beberapa hari ini saja kita mendengar pengupasan buku tentang pejalanan atau pandangan hidup seseorang yang kemudian dituding sebagai senjata untuk menghajar musuh-musuh Politik. Dalam sebuah Memoar Politik bukan hanya untuk menghajar tetapi juga bisa untuk memperbaiki citra seseorang, buku Sintong Panjahitan yang berjudul ”Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” yang dibuatnya untuk ”Meluruskan” sejarah menurut versi Sintong.
Banyak hal yang kemudian diangkat tapi yang paling menarik untuk dikonsumsi adalah seputar Isu Kudeta Prabowo Subiakto di Jaman Pemerintahan BJ Habibie. Sebuah buku yang otomatis akan di tentang oleh pendukung ataupun simpatisan Prabowo, ”Sebuahlangkah untuk menjagal” kata mereka.
Perdebatan dan pembelaan dari mantan anak buah Prabowopun disiarkan oleh TV One (Salah satu TV swasta Nasional), Kivlan Zain membantah dengan tegas dan malah menuding balik Sintong termasuk orang yang mempropokasi Habibie untuk mencopot Prabowo karena waktu itu ia menjabat sebagai salah satu sekertaris Militer Presiden.
Lain lagi dengan Ridwan Saidi Budayawan Betawi ini meluncurkan buku yang tak kalah fenomenal ”Bencana Bersama SBY”, ia menuliskan lebih dari 400 bencana yang dialami bangsa ini saat dipimpin oleh SBY. Walaupun ia menyangkal buku ini digunakan untuk menjatuhkan SBY tapi tetap saja akan membuat citra SBY menurun minimal untuk kalangan yang masih kental pemahamannya akan dunia metafisik.
"Kita hanya mengingatkan saja bahwa sejak SBY menjabat terjadi banyak bencana. Terserah dia apakah mau mundur atau tetap mencalonkan jadi presiden, mau sadar atau tidak. Kita hanya memberitahu pada pemerintah bahwa ada 400 bencana saat SBY menjabat. Itu saja, saya tidak ada urusan dengan pilpres nanti, karena saya akan golput," Ridwan Saidi menegaskan kembali dalam Kompas.com.
Megawati Sukarno Putri Tahun lalu juga kebagian sebuah Buku ”Mereka Biacara MEGA” walau isinya hanya sebatas Testemoni dari para tokoh cukup menarik juga untuk dijadikan diskusi. Pro kontra dengan sikap Megawati selama 2 tahun lebih memerintah menjadi perdebatan serius kemudian.
Sebagai masyarakat saya kira kita sepakat bahwa tokoh-tokoh bangsa ini harus punya etika, punya moralitas bersaing yang tinggi, punya hati nurani dalam berbuat. Apapun yang ditimbulkan dari sebuah buku sudah selayaknya memberikan pelajaran pada masyarakat. Bukan lagi peneipuan dan pembodohan, belajar mengkritik cerdas, mengiring opini yang sehat dan mendorong suprmasi hukum. Tanpa ini semua kembali kita akan dipimpin oleh Tirani, atau kasarnya ”Anjing Penjaga Investasi Asing” dan Jendral Berdasi Ikatan Kulit dan Tulang Rakyat Indonesia.
Mari Bersama Sukseskan Pemilu 2009, dengan jadi Pemilih cerdas bahkan lebih cerdas dari calon yang yang kita pilih hingga mereka sadar harus lebih cerdas lagi membangun bangsa ini.
News Categories






Comments
RSS feed for comments to this post.